Senin, 19 Desember 2016

From Semarang with love



Perjalanan yang sudah direncanakan sejak dua bulan lalu akhirnya terlaksana akhir minggu kemarin. Waktu dua hari satu malam di Semarang terasa sangat cepat. Apalagi karena dihabiskan bersama teman-teman seperjalanan yang seru-seru.

Yup!! Akhir minggu kemarin adalah trip ketiga bersama Backstrip. Awalnya ada sekitar 12 orang yang mendafar dan akan ikut, tetapi karena banyak urusan personal yang tidak bisa ditinggal akhirnya jumlah fixed yang ikut trip ini adalah enam orang, Jabbar, Mpok Mirna, Bang Pandu, Ka Ayu, Rindang dan Hanny. Fyi, Hanny juga anggota Backstrip yang menetap di Semarang. Hanny membantu kami membuat ittinerary dan menjadi pemandu selama perjalanan.

&&&

Entah mengapa Jumat kemarin rasanya cukup sibuk. Kulirik jam di pergelangan tangan kananku, jarum-jarumnya yang kecil mungil sudah menunjuk angka 15.15 dan aku masih berkutat dengan pekerjaan yang tanpa henti meraung-raung minta segera diselesaikan. Sementara itu, Ayu, Bang Pandu, Jabbar dan Mpok sudah tiba di Senen. Kereta kami berangkat dari Stasiun Senen pukul 16.15. Perjalanan dari kantor ke stasiun kuperkirakan memakan waktu sekitar 30 menit. Jadi, kalau tidak ada aral melintang aku bisa sampai stasiun 15 menit sebelum keberangkatan. Only if... the work must be finished in 15 minutes. OK!! So in the next 15 minutes I worked like crazy. Checked and rechecked, revised and checked again, email to A was sent, report from B was read and put in it's own folder. Check the things-to-do-today-list. Everything was done. Great!! it's 15.30 when Abang Ojek just arrived and waited in front of the gate. I took my backpack, put my shoes on, and got in to the Ojek and ciao to station Pasar Senen. It was so hectic. On the way, I couldn't stop singing and humming to distract my mind from thinking about being late. I could see, once or two times the Abang Ojek glanced at me and smiled a bit.

16.45 pung!! There we were. Duduk manis di kereta, senyum membingkai wajah dan aku bisa melihat kami sudah tidak sabar ingin segera memulai perjalanan ini.

Mas Rangga
Ketika lagi seru ngobrol, makan dan ketawa ketiwi muncullah seseorang yang hmm cukup tampan. Dibalut seragam operasional berwarna biru dan senjata andalannya, pembolong kertas! Layaknya pengawas ujian, dia memeriksa setiap tiket lalu cetek, cetek, cetek... Pandanganku tertuju pada si mas Rangga yang sayangnya ketika aku menceritakan ini sekarang, bayangan si mas rangga sudah hilang, tanpa bekas. Ah mas-mas tukang cetek-cetek tiket kereta, sampai jumpa lagi!

Kereta jarak jauh selalu menyenangkan. Tidak peduli sekeras apa kursinya atau berapa liter minyak goreng di nasi gorengnya, setiap perjalanan dengan kereta selalu menorehkan kisah. Ini kali kedua aku naik kereta jarak jauh ke daerah Jawa. Cemilan-cemilan sudah bersarang di perut, sekali aku berkemih lalu menikmati tiupan angin kencang dari jendela toilet. Sesaat kuterdiam dan kubiarkan angin mengacak-acak rambutku. Kutarik nafas dalam lalu kupalingkan pandangan ke kenop pintu toilet yang terasa seperti monster, siap menarik tanganku dengan kasar begitu aku mengulurkan tangan. Cuplikan adegan kartun Scobby Doo terlintas ketika knop pintu membuka mulutnya selebar mungkin lalu menelan Shaggy dan tiba-tiba aku sudah duduk manis, kembali ke kursi kereta yang sandarannya berdiri tegak membentuk sudut siku-siku.

Setelah mencoba berbagai posisi. Dari duduk manis, kaki mulai naik ke kursi, sender kanan kiri, kepala tiba-tiba menggantung, kaki di atas, darah turun ke kepala lalu tinggal menunggu waktu menuju ke... (stop!!) OK, intinya setelah beberapa jam, diumumkanlah bahwa kereta akan rehat sejenak di stasiun (kalo gak salah St. Cirebon). Penumpang lain segera berlarian, layaknya penggila belanja yang mengejar diskon 90% di Pondok Indah Mall, mereka mengambil langkah cepat menuju ke mba-mba Warteg dan penjual makanan/minuman yang lain. Ketika beberapa orang sudah mulai kembali ke kereta, kami berlima masih saling menatap satu sama lain dengan manisnya. Beberapa detik berlalu, Mpok dan Ka Ayu (Jabbar juga gak ya?) memutuskan untuk keluar. Berselang beberapa menit, tiba-tiba mereka sudah kembali lagi, mengikuti arus orang-orang yang bergegas kembali ke dalam kereta. "Beli apa Mpok?" Bang Pandu menanyakan hasil perburuan beberapa menit dan hasilnya NIHIL. Gak dapet apa-apa doong. Kelamaan gerak, belum ngantrinya. Tapi aku juga gak yakin sih, Mpok berhasil sampai tukang waterg nya gak sih?

Jumat, 23.00 kami tiba di stasiun Poncol. Pak Markus dan keluarganya sudah menanti kami (senang banget ada yang nungguin ya ampuun, terharu deh #plak #lebay). Tadinya kami mau cari makan di daerah kota, tetapi tak jadi. Setelah kelewatan, puter balik dan bertanya sedikit, akhirnya kami tiba di rumah tantenya Bang Pandu. FYI, tantenya Bang Pandu ada dimana-mana (???) Sebelum memasuki rumah tantenya Bang Pandu, kami ngobrol sebentar dengan abang-abang tukang jaga pos. "Oh ke Ungaran.. ke puncak Ungaran paling tiga jam" --> teeeettt!! PHP level Gede is detected!!! You better not really rely on that info.

Sekitar pukul 12.30 setelah mandi, cek cek baby cek rumah tantenya bang Pandu, kami pun tidur. Melepas lelah dan menyiapkan diri untuk petualangan esok hari. First destination will be CURUG SUMIRANG, Hei abang Curug, you better be ready because here we come for you!!

&&&

Pagi pertama di Semarang. Sebelum ayam berkokok Mpok Mirna, Kak Ayu dan Jabbar sudah siap-siap bertempur dengan pisau, penggorengan dan pencarian bawang merah yang tiada hentinya (#blaah). Benar-benar calon ibu dan ayah rumah tangga yang baik. Anaknya sejahtera dah tuh.

Bangun-bangun nasi goreng terhidang di meja ..... kita santap tiap hari, beraneka ragam hasil bumi, dari manakah datangnya, dari ..... ngeeekk #kasetnya rusak (jangan bilang kalian gak tau lagu ini. Kalo sampai gak tau keterlaluan namanya. Dimana kalian ketika lagu ini diajarkan pas kelas 2 SD?? Googling gih!) Nasi gorengnya enak, lebih enak lagi dengan tambahan kerupuk Tantenya Bang Pandu. Murah hati sekali mereka itu ya, udah tau ada rombongan perut bolong (baca: gue) datang, mereka tetap menyediakan cemilan. Btw, thanks to Mpok, Jab dan Ka Ayu.



Aaah, manisnyaaa. 


Nasi gorengnya malu-malu. Katanya, "Cukup rasaku saja yang memanjakan lidah kalian. Penampilan akan layu seiring dengan berjalannya waktu, tetapi hati dan otak akan tumbuh dan berkembang menjadi semakin matang dan cantik" (ini nasi goreng atau cewe lagi promosi??)
Bang Pandu, "Astaga! luka-luka gini mulut gue. Sepertinya ini nasi goreng ekstrak pecahan kaca" | Ka Ayu, "Ini si Rindang, udah tidur paling nyenyak sendiri, bangun-bangun langsung makan lagi. Dia udah makan cabe rawit yang gue selipin di nugget itu belum ya. hmmm | Jabbar: "Keluarin, enggak, keluarin, enggak. Gimana nihh" | Rindang," I have the time of my life and I never felt this way before.... makan aja terus, senangkanlah cacing-cacing di perutmu. syalalaa"

 Aku kenyaaang dan siap memulai petualangan mencari jeng jeng jeng jeng!!! shampo sachet!

Demi sampo kulakukan apa pun
Gue masih dalam proses mengubah kebiasaan packing di saat-saat terakhir menjadi packing sebulan sebelum hari H (berlebihan), jadi ada kalanya satu dua barang tertinggal. Kali ini yang ketinggalan adalah sampo. Sampo itu salah satu peralatan mandi yang sangaaat penting. Apalagi dengan kadar minyak kepala yang melebihi kadar minyak nasi goreng kereta, kebayang lah ya betapa pentingnya sampo itu untuk rambut macam rambut ku ini.

Setelah sarapan, pencarian pun dimulai. Titik pertama yang akan kutuju adalah area belakang rumah. Dengan percaya diri yang membumbung tinggi ke angkasa aku ayunkan kaki. Sesekali menoleh kanan dan kiri siapa tau di ujung gang ada warung kecil. Setelah bertanya pada Ibu warung nasi, sampailah aku ke sebuah warung. Begitu sampai, hal pertama yang menarik perhatianku adalah dua ekor tupai dalam kandang di depan rumah. Pertama kali melihat tupai, norak gitu. Sebagai pendatang yang tidak sombong, aku bermaksud berkenalan. Namun, dua langkah sebelum mencapai kandang, kedua tupai sepakat membalikkan badan dan mengacuhkanku. Cuih! tau gitu mah aku cuekin duluan deh. Sebelum caci maki berloncatan, aku segera mengucapkan salam dan permisi-permisi-permisi. Pemilik warung keluar dan mendengarkan maksud kedatanganku, "Baiklah, Ibu cari dulu ya Neng". 10 menit berlalu. Sang Ibu muncul dan "Maaf Neng, semua ada tapi kok sampo ndak ada ya Neng". ASTAGA! Nih ibu bercanda aja, mana saya tau Bu, kan yang jualan Ibu. Yang punya toko Ibu. Aku hanya nyegir-nyengir kuda dan berlalu.

Warung kedua. Arahnya sebelah kiri dari depan rumah Tantenya Bang Pandu. Jalannannya menurun. Setelah bertanya ke Bapak-Bapak yang sedang bercengkarama di depan rumah, tibalah aku di sebuah warung yang di sebelah kanannya ada tambak ikan dan di kiri ada kali kecil. Lagi-lagi, sampo tidak ada. Tapi kulihat ada tumpukan indomie yang memanggil-manggil namaku. Yasudahlah ya, karena tidak ingin mengecewakan mereka, aku beli aja. Sekalian biar ada alasan untuk tanya rekomendasi warung di sekitar sini yang menjual sampo.

Berdasarkan petunjuk dari Ibu warung kedua, aku berjalan ke kiri melewati jembatan. Lalu disambut tanjakan. Astaga! Tanjakan beneran loh! Serius. Awalnya ragu, takut di atas gak ada apa-apa atau jangan-janagan samapi atas sudah kaki gunung Ungaran lagi. Tapi begitu menoleh ke belakang tampak dua orang ibu-ibu dengan ember di kepala berjalan dari arah kali menuju ke arahku. OK, berarti di atas sana ada kehidupan. Dengan riang gembira yang kupaksakan, aku tiba di atas dan di kejauhan tampak sebuah warung yang dihiasi untaian sampo sachet. Akhirnyaaaaa..... pencarianku berakhir karna tlah kutemukan dirimu!!

*Dari ketiga warung yang kudatangi, ada pertanyaan yang sama yang mereka lontarkan padaku (selain pertanyaan khas ibu-ibu penjual ya) yaitu, "Neng, baru ya di sini? Saya belum pernah lihat. Tinggal dimana?" Sungguh, setelah beberapa peristiwa di Indonesia raya ini, dimana pelaku kejahatan kadang tinggal di daerah perumahan tetapi tidak dikenal oleh warga sekitar, aku merasakan pentingnya pertanyaan itu. Mereka aware banget loh, langsung ngeh ketika ada pendatang. Berarti pertanyaan itu memang salah satu pertanyaan yang sudah biasa ditanyakan ke orang baru. Penting banget! Bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari nih*

CURUG SUMIRANG
 Pertama kalinya bermain-main di Curug. yeaah!!

Welcome to Wa(ha)na Wisata Curug Semirang

Mpok dan Jabbar. Bajunya kompakan gitu ya. 

Jalan menuju Curug Semirang memang seperti ini. Tangga-tangga tanah. Ada juga kali kecil. Tapi akses ke Curug sudah bagus. Masalah  mungkin akan muncul ketika hujan karena tanahnya akan berlumpur dan licin.

Hutan 

Rindang, Hany, Jabbar, Ka Ayu dan Mpok


SETELAH INI SIAP-SIAP MENGHADAPI TANJAKAN PALING CURAM DI LEVEL INI. 
we present you the wonderful Curug Semirang, Enjoyyyy !!!!
Demi sebuah foto. Sangat berdedikasi. hehe
"But first, let us take a selfie :D"



Lama perjalanan dari pos ke Curug sekitar satu jam-an, tetapi turunnya bisa lebih cepat lagi. Di atas ada warung-warung menjual mie gelas, air mineral, dll. Waktu itu penjualnya oppung-oppung semua. Satu hal yang sangat disayangkan, di atas banyak sampaahhh. Sedih deh. Jangan ditiru ya!


###
Tulisan in dimulai dua tahun lalu dan setelah itu lupa. Sudah gak buka blog lagi hingga akhirnya tulisan ini pun terlupakan. Pengen dilanjutkan tetapi rasanya gak sama lagi. Nanti jadi PHP kalo diterusin padahal sudah gak ada rasa. Sudahi sajalah ya (???)

Sama seperti  tulisan ini, jalan sama Backstrip pun sudah gak pernah lagi. Kalo ada acara ngumpul pun kebanyakan gak ikut. Jadi rindu akuu. Sudah banyak yang menikah dan belum ada satu pun pernikahan anggoa geng yang kudatangi.

Ka Ayu bahkan sudah punya anak. Mas Adi penjaga benteng pas nanjak ke Gunung Gede pun sudah menikah. Ka Dina yang dua tahun lalu kupikir masih bocah juga sudah menikah and expecting baby. Jabbar sudah gak kerja di daerah Cikini. Gak pernah lagi ketemuan di Manggarai dan ngobrol-ngobrol sambil makan junk food nya Circle K dan memperhatikan kereta dan orang-orang kocar kacir. Bang Juki sekolah di Jogja. Ka Ebi PNS sejati. Mpok masih kurus tetapi terlihat semakin bahagia setiap harinya. Ka Pepoy, hailaaaahh aku bahkan baru sekali ketemu ketua geng ini. Bang Alex, where are you now? 

Ada yang lama, banyak yang baru. Begitulah hidup. Tetapi yang lama akan tetap di hati dan selamat datang untuk yang baru. 

Gak sabar mau ikutan jala-jalannya Backstrip lagi di tahun 2017 dan selanjutnyaaaa.
Aku rindu gengs!!




Kamis, 15 September 2016

5th

Dear W,

2 Years now.
We've been together for two years. We're in the same city. We visit each other. You've came to my home, met my T and N, talked with them. Hang out with my friends. Accompanied me to my best friend's wedding. Ate everywhere we wanted. You picked me up from work. We did a lot together. Holding hand, kiss, hug. The good things we did is totally awesome.

However, there were also bunch of things that pissed me off. Or things I did drove you crazy. Fighting, yelling, tears, silent and arguing which mostly ended up by me appologizing. I've changed a lot. Have you?
As you already knew, I have a crush on you since elementary school. Finally having you as my boyfriend is like WOOW, life's wonderful. Could I freeze the moment and live in it forever? Lol. Until now, I still like you. you are nice and such a laugh. Smart and able to do various stuffs. You didn't mind helping me cooking or watering the plants or even washing some dishes. You helped me chopping my garlic. Rubbing my back when I was in my period pain was so relaxing. Or saying, "can we switch place?"

Now we are getting to more serious talk. Future. FYI, it scares me. Getting married, building home together, having kid(s), etc. Family keep asking where will be the day. It is too much. Please do not get married too soon. We are still have other things to do right? Do you think we're really ready for it? Don't you wanna travel somewhere? Ah ya, you don't really like it. School? How about school? You don't want it anymore?

Please, let us do things we wanna do before the " I do" time. Let's make a lot of plans and do all of it one by one. Don't hurry. Take time thinking all over again before you decide it.

I love you

Yours,
R

Rabu, 20 Mei 2015

4th

20.05.2015

Dear W,

The silent time is finally over.
On Sunday, you called me and apologized for your anger, your bad words and for being so emotional. I am glad it did not take so long time, I mean not as long as I imagined.
You said, we better forgive each other and move on, but still it won't be forgotten. Thank you for coming back. I mean it.

In the last three days we talked, we said hi, but I realize the change of your behaviour. It's not as cheerfull as it was. You only answer and lazily asked for one or two times. I know, it will take time to get back to our usual habit or maybe it would be better if we create new habbits, who knows right?
So, I won't ask too much. You still need time, I'll try to understand. 

Today, a few hours ago, you texted me

hii
(double [i] I feel something different

haiiiii
(it shows how happy I am when reading your message)

are you busy now?
(I am wondering why)

no, not busy
(of course I am not. Even if I am, maybe I'll say not)

Today I feel better than yesterday

Glad to hear that
Something happened? hahaaa

Hahaha.. there is something, hard to explain but it's strengthen
(The triple [ha] obviously mean better thing is happening)

aaahhhh,
I miss youuu

Yes, I know. hehe
Wait for me, please

of course, I will.

Can't wait to see what's next

Yours,
R.

Sabtu, 16 Mei 2015

3rd

Saturday, May 16th 2015, 13.47

Dear W,

I just arrived in the office. Yes? Why I work on Saturday? Yup! I know. It is weekend. What kind of Job that makes me leave my comfy bed back home right? Well, I do need to do something. Need to put my eyes on the office maintenance today. 

Another reason? Haaha, I know you know me. So, yes. It is not the only reason and it's not strong enough actually. I need to keep my mind, my body and my heart busy. My whole system needs to be distracted from you. 

Yesterday as I told you I met B and I. You know what happened? of course, what else? yes, I cried. Cried again. But I guess that would be the last time. I run out of tears. Lol. My eyes were in pain. My heart? Oh please, don't ask. After that talk with them, I am sure you will be back. I'll be waiting.

This morning, I woke up at 7.30. I was sitting on the toilet, thinking, about your message, when suddenly my Grandma screamed on Hole. Fortunately Hole was escaping and it would be a bad thing for anyone who doesn't know him. He scares people and barks on everything. So, I run and chased him. It took about 45 minutes. Bravo! time's spent very well.

Umm, message? what kind of message? your message honey.

 "Sleep well R" 

When I read it this early morning, I was happy yet sad and confused. You said that we better not to contact each other unless there is a very important thing, so reminding me to sleep well is very important to you. That made my day! 
I did want to reply it. So I spontaneously typed

 "I miss you W" 

But then I read again and decided to turned off my phone. And the message saved as a draft until now. I do missing you, but I need to respect our deal. I can't help it. You're killing me.

W,

What are you doing now? I miss you baby. I do. 
Don't forget to come back, OK?


Yours,

R.




Jumat, 15 Mei 2015

Der Zweite

Lieber W,

Freitag, 16.05.2015, 16.22. 
Eigentlich möchte ich sehr ein WA-Nachricht dir anschicken weil ich jetzt zurück zu Hause gehen darf, obwohl es erst 16.25 ist. Einen Termin möchte ich mit dir vereinbaren, so dass wir heute Abend sich unterhalten. Weißt du, Freitag ist mein lieblingstag, einen Gespräch mit dir zu haben? Ja, richtig! Weil ich bis morgen mit dir sprechen kann

Aber ich etscheide nicht zurück zu Hause. Ich fühle mich träuriger wenn ich zu Hause bin. Ich möchte andere Aktivitäten tun, so dass ich immer nich an dich denken. So, später nach der Arbeit werde ich mit B, I, usw treffen. 

Ich möchte nicht dir vergessen, aber ich werde auch nicht an dich erinnern. Wenn ich weine, dann weine ich. Ich werde nicht zu hart probieren. Que sere sera.

I miss you

Deine,
R.

Pertama

Dear W,

Aku minta maaf sudah melukai hatimu, menghancurkan kepercayanmu dan merusak apa yang kita punya. Benar kata orang, bahwa aku tidak tahu apa yang kupunya hingga saat aku kehilangan. Kini aku merasakan itu. 

Kamu selalu membuatku merasa spesial. Meskipun kadang kamu naik pitam ketika aku bertingkah menyebalkan lalu mengorek-orek masa lalumu, aku tau itu bukan hanya karena kamu ingin melupakan mereka, namun karena kamu tidak ingin membandingkan aku dengan yang sebelumnya.

Kamu mengajarkan aku kesederhanaan dan bersyukur tidak peduli keadaan apa pun. "Rin, aku mencintai hidupku". Berkali-kali kamu mengatakan ini hingga tak perlu usaha terlalu besar untuk mengingatnya, meskipun mengaplikasikan tidak semudah itu. Bersyukur adalah salah satu ungkapan cinta. Aku bersyukur kamu ada di hidupku.

Alasan menyukaimu. Sering kamu tanyakan, tetapi jawabanku hanya satu. Tidak tahu. Aku tidak tahu kenapa aku menyukaimu. Aku juga tidak tau apa yang kutangisi sejak dua hari lalu. Takut kehilangan kenyamanan dan rasa disayang? Takut lepas dari "selamat pagi gadis" dan "I love you sayang"? Aku tidak tahu. Yang aku tahu, ternyata sakit yang ini benar-benar sakit. Anehnya, aku tidak tahu sakitnya dimana. Bagian mana yang harus kuolesi minyak? Obat apa yang sebaiknya kuminum? Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku membersihkan mata seperti ini. Mungkin karena sudah terlalu lama, sehingga persediaan air mata pun menumpuk. Kamis pagi menangis. Kamis siang menangis. Kamis malam menangis. Pagi ini di kereta, aku pun menangis. Bengong menangis, membaca menangis, tidur menangis. Benar-benar air yang sangat banyak.

Mulai sekarang kita akan berjalan masing-masing. Fokus dengan diri sendiri dan melakukan apa yang kita inginkan. Sudah kuhapus semua yang berpeluang mengingatkan aku pada cerita kemarin. Seperti kamu yang ingin mencari tahu apakah aku benar-benar sayang padamu, aku juga ingin memastikan hal yang sama. 

Kukutip kembali tulisan Tere Liye yang dulu juga kutuliskan di surat pertamaku

"Jika dua orang memang benar-benar saling menyukai satu sama lain, bukan berarti mereka harus bersama saat ini juga. Tunggulah di waktu yang tepat, saat semua memang sudah siap, maka kebersamaan itu bisa jadi hadiah yang hebat untuk orang-orang yang bersabar. Sementara menanti, sibukkanlah diri untuk terus menjadi lebih baik. Waktu dan jarak akan menyingkap rahasia besarnya, apakah rasa suka itu semakin besar, atau semakin memudar"


"Aku masih di kereta, bisa temenin"
"Ah sayang, kamu bikin aku kaya orang lain. Aku ini milikmu loh"


"Jangan tidur, temenin dulu"
"Eh, kamu tidur duluan aja deh"
"Tidur, jangan, tidur, jangan. Mana yang benar?"
"Tungguin yaa"
"Siap nona manis. Ada saatnya kamu akan memperlakukan aku begitu"


"Aku juga penting dalam hidupmu, jadi aku harus dapat bagian."
"Berapa bagian yang kamu pengen?"
"Untuk sekarang 1/4 dari keseharianmu..." 



Segera kembali. Aku menunggu

Yours,

R.


Senin, 23 Februari 2015

Bukittinggi, Dua Hari Dua Malam


Tiket sudah di tangan, rencana perjalanan sudah mantap, tinggal jalan, memanjakan mata dan jiwa di Padang lalu pulang kampuang dengan perasaan riang gembira. Rencanaku sih begini tetapi ya kenyataannya ......... LEBIH OKE DARI SEKEDAR "begini". Serius! Tak percaya?? You better check this out :D #halah

18 Desember 2014

Lion Air, JT 252, 05.50. 

Perjalanan yang sudah direncanakan akhirnya akan dimulai hari ini. Ojek Rekky melaju dengan kencang, Bus Damri pun juga sudah menanti di terminal Pasar Minggu. Hop!! Tidur bentar ahh. Tiba di bandara Soekarno Hatta suasana mulai ramai. Aku melirik jam, masih ada waktu untuk mengantri di barisan paling pendek. Okelaah. tik tok tik tok tik tok. Berpuluh-puluh menit kemudian. Ada apakah dengan check in Lion Air ini? Perasaan antrian gak panjang-panjang amat tapi kok lama banget? Mimpi pas ngantri lebih banyak daripada mimpi pas di Damri tadi (OK, berlebihan). Gue pelototin jam tangan, waktunya sudah semakin dekat. Tapi antrian hanya berkurang dua orang. Karena semakin telat, gue hampiri orang-orang di depan dan minta tolong agar membiarkan diriku check in lebih dulu. 

Terima kasih untuk "sesama penumpang harus saling menyayangi" karena orang-orang di depan gue dengan baik hati memberikan kesempatan untuk check in lebih dulu. Sampailah di meja check in

" Mba, printer lagi rusak langsung ke counter 26 saja ya"
Gue lari-lari sambil sh*t sh*t menuju ke counter 26. 
"Mba, pesawatnya sudah siap untuk take off. Mba telat. Issue tiket baru di belakang ya" ucap Mba-mba counter 26 sembari menunjuk ke kerumunan orang-orang di bagian ticketing Lion Air.

Well, ngumpat pun tak akan bikin pesawat nunggu saya kan. Daripada menghabiskan energi, saya segera menuju ke arah yang ditunjukkan Mba-mba counter 26. Dan sebuah drama telah menanti. Ternyata ada banyak penumpang Lion Air ke berbagai daerah sebelum jadwal penerbangan gue yang juga ketinggalan pesawat. Ada yang ke Palembang, Batam, dan satu lagi, saya lupa. Otomatis bagian ticketing ramai bukan main. Ada yang marah-marah, teriak-teriak histeris dan paling epik ibu-ibu (halak hita) dan anaknya yang menangis meraung-raung. Alasannya adalah, karena mereka ketinggalan pesawat maka mereka (dan saya) diwajibkan membeli tiket baru untuk jadwal hari itu (atau bisa juga minggu depan, bulan depan atau bahkan tahun depan). Harganya tentu saja mahal. Pihak maskapai memiliki perhitungan sendiri, saya tidak terlalu mengerti. Akan tetapi karena banyaknya gelombang protes, pihak Lion Air berinisiatif membuat perhitungan baru untuk menekan harga. Perhitungan persisnya saya juga lupa, tapi intinya adalah selisih harga tiket waktu beli dengan dengan harga tiket tanggal itu (18 Des 2014). 

Berhubung (mungkin)  tujuan saya bukanlah tujuan yang ramai dikunjungi di musim natal  jadi harga tiket hari itu belum mahal-mahal banget. Untuk dapat tiket baru saya pun membayar Rp. 198.300. Uangkuuuuu tapi tak apalah. Kesalahanku juga sih, tidak teliti.

08.15. Tiket (baru) sudah di tangan.

LION AIR, JT 254, 17.25

Tantangan berikutnya. Apakah yang harus saya lakukan dalam rentang waktu 08.15-17.25??? hahhahaa, hmmmm. Pertama, makan. Kedua, main HP. Ketiga, baca buku. Keempat, beli 3 Nat Geo edisi beberapa bulan lalu, kemudian lihat gambar, baca, buka kamus, lihat gambar selesai. Kelima, telfon dan bbm an dengan handai taulan serta orang-orang terkasih, hahaa. Keenam, keliling bandara. Ketujuh, merhatiin orang-orang dan keadaan sekitar. Kedelapan, tidur zzzzzz. 

Sehari pun berlalu. Akhirnya duduk dalam pesawat. Siap-siap tidur dan berharap ketika bangun sudah tiba di Padang. Kali ini tepat. Tiba di Padang sekitar pukul 20.00. Setelah koordinasi dengan kawan di Bukit Tinggi, Toni, akhirnya diputuskan, alih-alih langsung ke penginapan, aku malah akan ke tempat Toni. Menginap di sana dan besok akan ke penginapan (rencana). 

Tiga jam perjalanan dengan mobil travel berbiaya p. 85.000. Percayalah, biasanya jauh lebih murah. Harga awal Rp. 100.000 loh! Sekitar pukul 23.00 aku tiba di tempat kerja Toni. Sudah malam, gerimis, lelah, ada air, ada kamar pinjaman, ada kasur dan kantuk pun menunjukkan diri. Baiklaaah, ayo tiduuur.


19 Desember 2014

Selamat pagi Bukittinggi :) :) Apa kabar? siap bertemu denganku??
Setelah sarapan, Toni menawarkan akan mengantarku jalan-jalan ke kota (Bukittinggi), tapi setelah kerjaannya dia selesai yaitu tengah hari. Karena masih gerimis, aku OK. Setelah acara Toni selesai, kami pun berangkaaaatttt.

JAM GADANG




Pak (saya lupa banget namanya maaf). Bapak ini adalah petugas yang mengawasi Jam Gadang. Biasanya ada dua orang (ganti shift). Namun, karena petugas yang satu lagi sedang studi banding ke Bali jadi untuk beberapa hari, Bapak ini akan in charge seorang diri. Dulu, pengunjung masih bisa masuk dan naik ke Jam Gadang, namun untuk alasan pelestarian, sudah beberapa tahun terakhir tidak diperbolehkan lagi.

Gloomy friday

suasana di sekitar Jam Gadang. Jam Gadang biasanya adalah meeting point warga Bukittinggi. Tempat nongkrong juga. Di sebelahnya ada pasar dan mall. Tapi nampaknya lebih enak di Jam Gadanglaah.



Jam Gadang dari masa ke masa. Jam Gadang didirikan ketika masa penjajahan Belanda. Fungsi awalnya adalah sebagai menara pengintai. Di atapnya juga konon pernah dibuat patung ayam jantan. Pada masa penjajahan Jepang, ayam jantan diganti menjadi bentuk rumah biasa. Kemudian setelah kemerdekaan RI, jam gadang direhabilitasi dan puncaknya diganti lagi dan dibuatlah bentuk khas Minangkabau, yaitu atap "bergonjong" empat. Bentuk ini dipertahankan hingga sekarang.

Taman Bung Hatta hanya berjarak beberapa meter dari Jam Gadang. Hanya perlu jalan kaki beberapa menit. Sayangnya, nampaknya taman ini hanya bisa dinikmati dari luar pagar. Baiklah



TUGU PAHLAWAN TAK DIKENAL
Sesungguhnya saya masih bingung dengan Tugu ini. Tugu pahlawan tak dikenal. Letaknya di seberang Taman Bung Hatta, di belokan jalan. Tanpa keterangan apa pun. Sepertinya taman ini tidak sering dikunjungi karena letaknya di pinggir belokan dan ditutupi pedagang dan mobil-mobil yang parkir.




ISTANA BUNG HATTA


Add caption

Kedua gambar ini berada di lokasi yang sama yaitu di kawasan istana Bung Hatta. Menurutmu foto di kanan kiriku berbentuk apa? Jawabannya adala, tadaaa "Pinguin".Menurutmu mirip? Kalo menurutku sih, entahlah. Hahaha. Awalnya sama sekali gek ngeh. Ketika petugas mengatakan kami tidak boleh memasuki gedung istana, dengan langkah gontai, lemah, lesu, terkulai (tetot!) kami melangkah ke luar. Tiba-tiba, salah satu petugas memanggil kami dan menyarankan berfoto di bersama pinguin. Aku sempat celingak celinguk. Pinguin mana? Kirain patung pinguin gitu kan ya. Ternyata oh ternyata. Pinguin yang di ataslah yang dimaksud. Mirip? Iyalah tuuh.


LANDMARK BUKITTINGGI

Untuk foto-foto spot ini bagus tetapi susah Kakaa. Posisinya terlalu mepet ke jalan jadi agak repot kalau kalian bawa mobil. Bisa bikin macet.

GEREJA KATHOLIK
Gereja Katolik St. Petrus Claver, Bukittinggi. Salah satu cagar budaya di Bukittinggi.


KEBUN BINATANG PASAR ATAS


Jenjang Pesanggrahan. Salah satu pintu masuk ke Kebun Binatang Pasar Atas, lanjut ke Benteng Fort de Kock lalu ke Jembatan Lempapeh. Nanti akan keluar di sisi lain jalan. Jadi rutenya memutar.
sekitar 75 anak tangga

Gerbang masuk Kebun Binatang. Sekilas, kukira itu starb*cks, ternyata kepala harimau putih

rusa ommmmooooo

Axis axis alias rusa tutul

Cervus unicolor (rusa air/rusa sambar

kasihan burungnyaa. Masih hidup looh, mengelepar-gelepar. Aku bertanya-tanya, "bukankah rusa makan rumput?" hmm

Buruuuuuunngg


Luphura ignata rufa / sempidan biru sumatera

tiga ekor sempidan biru sumatera



gajahnya sediih :( :(

"sendiri aja dek?" | 

dia malu-malu





berteman

"Tunjukkan wajahmu, kumohon.."

haiyah!


Tapirus indicus /tapir malaya
sedih di keramaian. Ada apa?





Pavo cristata / merak biru
Satu hal yang paling menarik perhatian saya selama mengunjungi kebun binatang Pasar Atas adalah hewan-hewan di dalam terlihat sedih, kaya pengen nangis, minta keluar. Menurutku, tempatnya juga kurang terawat. Kandang hewan gersang (atau mungkin memang tipe seperti itu yang cocok, aku kurang tau). Semoga segera diperbaikilah. Sayang banget soalnya.

Oh iya, tiket masuk kawasan area kebun binatang adalah Rp. 10.000,-

RUMAH ADAT BAANJUANG






Di dalam komplek Kebun Binatang Pasar Atas terdapat (sejenis) museum juga. Didalamnya ada pakaian adat Minang, fosil hewan-hewan yang memiliki kelainan, macam kerbau kaki delapan, kamping muka dua, sapi kepala dua, kerbau kepala dua kaki enam, dll. Ada juga replika rumah adat Minang dan bagian-bagiannya, senjata tradisional, peralatan dapur zaman dulu hingga silsilah adat dan garis-garis keturunan. Ada juga uang koin kuno dari berbagai wilayah.

Meskipun berada di dalam kawasan kebun binatang, tapi masuk ke dalam rumah Baanjuang harus bayar Rp. 2.000,-. Ada dua orang Mba-mba cantik yang akan menantimu di pintu masuk. 

Ini sebagian hewan-hewan (terlahir tidk normal) yang sengaja diawetkan. Masih penasaran, bagaimana cara pengawetannya. Tetapi ndak ado yang biso  ditanyai :( Mba-mba cantik sibuk nonton film.















JEMBATAN LEMPAPEH

Setelah mengunjungi kebun binatang dan rumah Baanjuang, kami lanjut ke Jembatan Lempapeh. Jembatan ini menghubungkan kebun binatang dan benteng Fort de Kock. Menurut info-info di Google ukuran jembatan ini sekitar 90m x 3.8m. Ini juga yang saya sayangkan setelah mengunjungi beberapa tempat yang terkenal di Bukittinggi. Banyak info-info penting yang tidak dicantumkan.


Jembatan Lempapeh. Di gapura jembatan (bagian tengah) bersarang kelelawar (atau burung gereja?). Karena kami ke sana ketika hari masih terang, jadi tidak ada yang menampakkan diri. Yang ada adalah kepakan sayap di langit-langit dan juga   bekas poopy, hitam, kecil, imut, hahhaha
Jembatan Lempapeh. Itu sarang kelelawar yang saya bicarakan tadi.


Pemandangan sisi kiri dari atas Jembatan Lempapeh. Lihat jam Gadang di sebelah kiri? Di sebelah kanan yang atap oranye+merah itu adalah sejenis Klenteng dan juga untuk rumah duka.
Pemandangan sisi kanan dari atas Jembatan Lempapeh. Bangunan paling atas berlatar belakang pegunungan itu adalah kantor walikota Bukittinggi. Sayang, kami tidak sempat ke sana. 











BENTENG FORT DE KOCK

Setelah melewati jembatan, tibalah kami di Benteng Fort de Kock. Menurutku, letaknya memang strategis untuk dijadikan benteng. Di atas dataran tinggi dan dikelilingi banyak pohon. Eh tapi, tidak tau dulu sudah banyak pohon atau belum. Kalau banyak pohon kan musuh juga bisa mendekat tanpa terlihat ya. Apalagi kan pahlawan kita zaman dahulu adalah pahlawan bergerilya (ok, jangan bilang kalian percaya 100% cerita gerilya-gerilyaan yang ada di buku sejarah itu) ---

"Benteng Fort de Kock ini didirikan oleh Kapten Bauer tahun 1825 di atas bukit Jirek Negeri Bukittinggi sebagai kubu pertahanan Pemerintah Hindia Belanda menghadapi perlawanana rakyat dalam perang Paderi yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol. Ketika itu Baron Hendrick Markus de Kock menjadi komandan de Roepoen dan wakil gubernur jenderal Pemerintah Hindia Belanda. Dari sinilah nama lokasi ini menjadi Benteng Fort de Kock"


Di setiap sudut ada meriam. Saya lupa ada berapa banyak, mungkin sekitar 10 buah meriam.


MAKAN-MAKAN

Setelah mengunjungi Benteng Fort de Kock, kami kembali ke Baso. Mau istirahat dan mandi karena nanti malam waktunya makan-makan...
Perhentian pertama adalaahh...

Sate Madura -_-
Hahahhaa, pasti krik krik. Entahlah, makan sate Madura di Padang, Bika Ambon di Medan, biarkanlah. Nusantara. hahaa.
Tapi sate yang ini berbeda. Gurih!! Gak enek, Lihat sambel hijau itu? Warnanya seperti warna wasabi. Tadinya saya gak mau makan, ngeri pedes. Ternyata ing ong iing, tidak pedas :)



Teh Taluang
Yang membuat teh ini spesial adalah ada telor dalam setiap gelas teh taluang. Gurih, manis dan enaak. hahaha ;D
SERABI ENHAI! HUWAWAWA...
Jauh-jauh ke Bukittinggi makannya Serabi Enhai. Padahal di Margonda banyaak. hahhaa. Tapi gak apalah karena nampaknya Serabi Enhai yang ini tempat nongkrong yang ngehits bangeet, jadi bolehlaah dicoba.

20 Desember 2014

Hari kedua di Bukittinggi. Kemana kita hari ini? Iya!! Tentu saja! Ayoooo....

LEMBAH HARAU

Lembah Harau terletak di Payakumbuh. Untung Toni ada motor, kalau tidak agak rempong juga. Jalannya mulus, bagus tapi angkutan umum kurang. Jadi, kalau lain kali kamu mengunjungi Lembah Harau atau Bukittinggi sebaiknya rental mobil atau motor.






Hanya ditopang sebilah kayu. Melewati rute ini sukses membuat bulu kuduk merinding. Ngeri. 
Tiba di kawasan Harau, tempat pertama yang kami kunjungi adalah

ECO TOURISM HARAU RESORT

Menurut gambar di samping, seharusnya kami akan menjumpai kupu-kupu, berbagai jenis anggrek, ikan-ikan dan mungkin bebek-bekan untuk main air.

Aku dan Toni sudah semangat 45, soalnya Toni juga kebetulan belum pernah ke bagian yang ini. Jadi, dengan langkah pasti kami mendekat dan tidak lupa senyum masih membingkai wajah. Cuaca cerah semakin membuatku bersemangat.

Akan tetapi, jauh asap dari api. Bukan kupu-kupu yang kami temui tetapi beberapa kandang besar, karatan dan kosong. Oh iya, dan juga buaya besar dalam kandang. Rerumputan lebih tinggi dari tanaman anggrek. Jalanan lumutan. Rumput liar dimana-mana. Sama sekali tidak menarik.

Puas kecewa kami maju beberapa meter lagi menuju destinasi awal yaitu, air terjun Lembah Harau


Main air
Ternyata anak SMP dimana-mana di Jakarta sama dengan di Bukittinggi. Jadi, bocah-bocah itu yang nampaknya baru pulang sekolah, dengan pongahnya naik motor ugal-ugalan, dan merokok. Rasanya aku pengen kirim mereka ke kereta Bogor-Tanah Abang hari senin jam 7 pagi. Penasaran, masih berani nakal-nakalan gak ya

Airnya dingiinnnn. Coba ada Mpok, mau deh mandi-mandi dulu. Puas main air, kami beranjak ke tujuann berikutnya. Di tengah jalan mampir ke warung yang menjual berbagai jenis makanan berbahan dasar jagung, bakwan jagung, donat jagung sampai jus jagung tapi cover-nya anggur dkk. hahaa

KELOK SEMBILAN

Katanya, mengunjungi Bukittinggi kurang lengkap jika tidak ke kelok sembilan. Kataku, daripada penasaran, ayo kita coba. Jarak dari Lembah Harau ke Kelok Sembilan lumayan jauh. Tetapi jalannya bagus.
Bersiap untuk kelok pertama


Menikmati puncak Kelok Sembilan. Di akhir kelokan, pinggir jalan dipenuhi penjual jagung bakar, air, dll.

RUMAH KELAHIRAN BUNG HATTA

Rumah ini terletak di Jl. Soekarno Hatta no. 37 Bukittinggi. Bukan rumah asli, namun sudah dibangun kembali dan diresmikan tahun 1995. Rumah ini cukup besar. Terdiri dari dua lantai. Begitu masuk beranda, di kanan kiri ada dua kamar tidur: Kamar Bujangan dan Kamar Saleh St. Sinaro. Memasuki lantai satu, ada ruang tamu yang cukup besar, di sebelah kanan Kamar Mamak Saleh dan di sebelah kiri Kamar Mamak Idris. Melewati Ruang Makan dan sampilah ke bagian belakang rumah: ada Lumbung Padi, Kamar Bujangan, Dapur, Kamar Mandi, Ruang Perlengkapan Bendi, Ruang Bendi dan bangsal kuda.   Tangga menuju lantai dua, ada di belakang rumah. Di lantai dua ada Ruang Tamu, Kamar Pak Gaek dan Kamar Lahir Bung Hatta. Seluruh lantai rumah dilapisi tikar. Jadi, tidak boleh pakai alas kaki. Rumah dibuka untuk umum, gratis tapi diharapkan memberikan sumbangan seikhlasnya. "Biasanya pengunjung memebrikan minimal Rp. 15,000, tapi seikhlasnya saja"

Pasti kalian bertanya-tanya soal Mamak Idris, Pak Gaek, Bujangan, dll kain? Saya sengaja  menyimpannya agar kalian punya satu alasan untuk mengunjungi rumah ini :D


LOBANG JEPANG


133-135 anak tangga. Dulu, tangga ini bisa digunakan hanya sebagai jalan masuk. Jalan keluar ada di ujung Lobang tetapi karena katanya banyak yang nyasar, akhirnya jalan masuk dan keluar tinggal satu, yaitu melewati tangga-tangga ini.

Lobang terdiri dari banyak lobang-lobang lain dengan berbagai fungsi: ada ruang sidang, ruang amunisi, mini theater, museum saintifik, barak militer dan pintu pelarian. Akan tetapi sebagian besar lobang-lobang ini difungsikan sebagai ruang amunisi.

JANJANG SARIBU

Selamat Datang
Maafkan gambar goyang Kapten!







Puncak

Saya tidak sempat menghitung jumlah anak tangga. Sudah lelah duluan. Tangga tidak terlalu lebar, sehingga agak sulit kalau mendahului. Bahkan ketika berpapasan pun harus berhati-hati. Menurutku, ada yang kemiringannya mencapai 80derajat. Cukup berbahaya kalau sembrono.
Begitu tiba di atas, rasanya wuuuaaaahhhhh!!! lega dan bangga. Hahaha. Hampir sama kaya naik gunung, bahkan posisiku rasanya sudah sama tinggi dengan gunung merapi di hadapanku. Hahaha ;D 

MAKAN LAGII..


Itiak lado ijo. Bebek capai hijau. Rasanya? EEENNNNNAAAAKKKKK BAAAANNNGGGEEETTTT :P
Awalnya aku bingung, sudah ada cabai hijau setiggi gunung untuk apa lagi sambal? Hehe, ternyata cabai hijaunya tidak sepedas yang kubayangkan. Kami masuk dalam daftar pelanggan terakhir, jadinya rendang tinggal ekstraknya saja.
Aku sukaaaa. Jadi kangen, huhuu


DANGAU KAWA

Dangau Kawa, salah satu kedai yang selalu ramai pelanggan. Untung begitu kami sampai, ada meja yang baru ditinggal penghuninya. Asap rokok dimana-mana, ngakak sana sini, cincin batu akik memenuhi pandangan. Kebanyakan yang nongkrong malam itu adalah anak-anak usia SMP ke atas. Jangan salah, bukan hanya laki-laki, perempuan juga ikut nongkrong. Segerombol anak SMP bergabung di meja kami. Ah, malam minggu. 

Tiga minuman utama: kawa biasa, kawa susu dan kawa taluang. Pada dasarnya, kawa terbuat dari daun kopi yang dikeringkan lalu dijadikan  sebagai pengganti teh dan disajikan di batok kelapa atau batang bambu. Di setiap meja disiapkan gula. Kalau ingin kawa susu, harus pesan di awal dan harganya akan tambah. Anak-anak yang semeja dengan kami mempunyai ide brilian: mereka memesan kawa biasa dan (ini rahasia) satu sachet susu kental manis dikeluarkan dari kantong jaket. Begitu pelayan memalingkan muka, segera beraksi. Daripada membeli langsung dengan susu, harganya lebih mahal. Aku masih terpesona dengan teh taluang, jadi malam itu aku memuaskan diri dengan kawa taluang

Saking banyaknya pelanggan, teriak berkali-kali pun, pelayannya tetap sulit mendengar kita. Jadi, setiap meja dilengkapi kentongan. Lebih ampuh!



21 Desember 2014

Hari terakhir di Bukittinggi....
Ah, sudah hari terakhir saja. Cepat kali bah!! Udan di Tanah Minang, masih Batak kali pun! Hahaha
Masih ada waktu setengah hari. Pagi hari kami ibadah di gereja. Kemudian sarapan di nasi kapau terenak di Pasar Atas (terenak: padahal hanya mengunjungi satu kedai nasi kapau ;p)


Nasi Kapau Uni Lis. Semua kuning 

Setelah makan nasi kapau. Kuningnya benar-benar kuning.

Baiklaaahhh!!!

Hampir semua tempat di daftar saya berhasil dikunjungi. Bukittinggi sungguh sangat mempesona. Cantik dan menyenangkan. Terima kasih untuk orang-orang yang saya jumpai, yang membantu mengambil gambar, yang menjual makanan-makanan enak dan yang membuat perjalanan ini tidak terlupakan. Terima kasih untuk kawan-kawannya Toni: Ka Vita, Ka Hana, dll.


Naparpudi, mauliate godang tu ito na burju ala olo hurepoti na piga ari on, Toni. Mauliate rrraaaa. Sai anggiat ma lancar karejomu daa!

"Jika tua nanti kita, t'lah hidup masing-masing ingatlah hari ini" -Project POP-