Tiket sudah di tangan, rencana perjalanan sudah mantap, tinggal jalan, memanjakan mata dan jiwa di Padang lalu pulang kampuang dengan perasaan riang gembira. Rencanaku sih begini tetapi ya kenyataannya ......... LEBIH OKE DARI SEKEDAR "begini". Serius! Tak percaya?? You better check this out :D #halah
18 Desember 2014
Lion Air, JT 252, 05.50.
Perjalanan yang sudah direncanakan akhirnya akan dimulai hari ini. Ojek Rekky melaju dengan kencang, Bus Damri pun juga sudah menanti di terminal Pasar Minggu. Hop!! Tidur bentar ahh. Tiba di bandara Soekarno Hatta suasana mulai ramai. Aku melirik jam, masih ada waktu untuk mengantri di barisan paling pendek. Okelaah. tik tok tik tok tik tok. Berpuluh-puluh menit kemudian. Ada apakah dengan check in Lion Air ini? Perasaan antrian gak panjang-panjang amat tapi kok lama banget? Mimpi pas ngantri lebih banyak daripada mimpi pas di Damri tadi (OK, berlebihan). Gue pelototin jam tangan, waktunya sudah semakin dekat. Tapi antrian hanya berkurang dua orang. Karena semakin telat, gue hampiri orang-orang di depan dan minta tolong agar membiarkan diriku check in lebih dulu.
Terima kasih untuk "sesama penumpang harus saling menyayangi" karena orang-orang di depan gue dengan baik hati memberikan kesempatan untuk check in lebih dulu. Sampailah di meja check in
" Mba, printer lagi rusak langsung ke counter 26 saja ya"
Gue lari-lari sambil sh*t sh*t menuju ke counter 26.
"Mba, pesawatnya sudah siap untuk take off. Mba telat. Issue tiket baru di belakang ya" ucap Mba-mba counter 26 sembari menunjuk ke kerumunan orang-orang di bagian ticketing Lion Air.
Well, ngumpat pun tak akan bikin pesawat nunggu saya kan. Daripada menghabiskan energi, saya segera menuju ke arah yang ditunjukkan Mba-mba counter 26. Dan sebuah drama telah menanti. Ternyata ada banyak penumpang Lion Air ke berbagai daerah sebelum jadwal penerbangan gue yang juga ketinggalan pesawat. Ada yang ke Palembang, Batam, dan satu lagi, saya lupa. Otomatis bagian ticketing ramai bukan main. Ada yang marah-marah, teriak-teriak histeris dan paling epik ibu-ibu (halak hita) dan anaknya yang menangis meraung-raung. Alasannya adalah, karena mereka ketinggalan pesawat maka mereka (dan saya) diwajibkan membeli tiket baru untuk jadwal hari itu (atau bisa juga minggu depan, bulan depan atau bahkan tahun depan). Harganya tentu saja mahal. Pihak maskapai memiliki perhitungan sendiri, saya tidak terlalu mengerti. Akan tetapi karena banyaknya gelombang protes, pihak Lion Air berinisiatif membuat perhitungan baru untuk menekan harga. Perhitungan persisnya saya juga lupa, tapi intinya adalah selisih harga tiket waktu beli dengan dengan harga tiket tanggal itu (18 Des 2014).
Berhubung (mungkin) tujuan saya bukanlah tujuan yang ramai dikunjungi di musim natal jadi harga tiket hari itu belum mahal-mahal banget. Untuk dapat tiket baru saya pun membayar Rp. 198.300. Uangkuuuuu tapi tak apalah. Kesalahanku juga sih, tidak teliti.
08.15. Tiket (baru) sudah di tangan.
LION AIR, JT 254, 17.25
Tantangan berikutnya. Apakah yang harus saya lakukan dalam rentang waktu 08.15-17.25??? hahhahaa, hmmmm. Pertama, makan. Kedua, main HP. Ketiga, baca buku. Keempat, beli 3 Nat Geo edisi beberapa bulan lalu, kemudian lihat gambar, baca, buka kamus, lihat gambar selesai. Kelima, telfon dan bbm an dengan handai taulan serta orang-orang terkasih, hahaa. Keenam, keliling bandara. Ketujuh, merhatiin orang-orang dan keadaan sekitar. Kedelapan, tidur zzzzzz.
Sehari pun berlalu. Akhirnya duduk dalam pesawat. Siap-siap tidur dan berharap ketika bangun sudah tiba di Padang. Kali ini tepat. Tiba di Padang sekitar pukul 20.00. Setelah koordinasi dengan kawan di Bukit Tinggi, Toni, akhirnya diputuskan, alih-alih langsung ke penginapan, aku malah akan ke tempat Toni. Menginap di sana dan besok akan ke penginapan (rencana).
Tiga jam perjalanan dengan mobil travel berbiaya p. 85.000. Percayalah, biasanya jauh lebih murah. Harga awal Rp. 100.000 loh! Sekitar pukul 23.00 aku tiba di tempat kerja Toni. Sudah malam, gerimis, lelah, ada air, ada kamar pinjaman, ada kasur dan kantuk pun menunjukkan diri. Baiklaaah, ayo tiduuur.
19 Desember 2014
Selamat pagi Bukittinggi :) :) Apa kabar? siap bertemu denganku??
Setelah sarapan, Toni menawarkan akan mengantarku jalan-jalan ke kota (Bukittinggi), tapi setelah kerjaannya dia selesai yaitu tengah hari. Karena masih gerimis, aku OK. Setelah acara Toni selesai, kami pun berangkaaaatttt.
JAM GADANG
Gloomy friday |
suasana di sekitar Jam Gadang. Jam Gadang biasanya adalah meeting point warga Bukittinggi. Tempat nongkrong juga. Di sebelahnya ada pasar dan mall. Tapi nampaknya lebih enak di Jam Gadanglaah. |
Taman Bung Hatta hanya berjarak beberapa meter dari Jam Gadang. Hanya perlu jalan kaki beberapa menit. Sayangnya, nampaknya taman ini hanya bisa dinikmati dari luar pagar. Baiklah |
TUGU PAHLAWAN TAK DIKENAL
ISTANA BUNG HATTA
Add caption |
Kedua gambar ini berada di lokasi yang sama yaitu di kawasan istana Bung Hatta. Menurutmu foto di kanan kiriku berbentuk apa? Jawabannya adala, tadaaa "Pinguin".Menurutmu mirip? Kalo menurutku sih, entahlah. Hahaha. Awalnya sama sekali gek ngeh. Ketika petugas mengatakan kami tidak boleh memasuki gedung istana, dengan langkah gontai, lemah, lesu, terkulai (tetot!) kami melangkah ke luar. Tiba-tiba, salah satu petugas memanggil kami dan menyarankan berfoto di bersama pinguin. Aku sempat celingak celinguk. Pinguin mana? Kirain patung pinguin gitu kan ya. Ternyata oh ternyata. Pinguin yang di ataslah yang dimaksud. Mirip? Iyalah tuuh.
LANDMARK BUKITTINGGI
Untuk foto-foto spot ini bagus tetapi susah Kakaa. Posisinya terlalu mepet ke jalan jadi agak repot kalau kalian bawa mobil. Bisa bikin macet. |
GEREJA KATHOLIK
Gereja Katolik St. Petrus Claver, Bukittinggi. Salah satu cagar budaya di Bukittinggi. |
KEBUN BINATANG PASAR ATAS
Jenjang Pesanggrahan. Salah satu pintu masuk ke Kebun Binatang Pasar Atas, lanjut ke Benteng Fort de Kock lalu ke Jembatan Lempapeh. Nanti akan keluar di sisi lain jalan. Jadi rutenya memutar. |
sekitar 75 anak tangga |
Gerbang masuk Kebun Binatang. Sekilas, kukira itu starb*cks, ternyata kepala harimau putih |
rusa ommmmooooo |
Axis axis alias rusa tutul |
Cervus unicolor (rusa air/rusa sambar |
kasihan burungnyaa. Masih hidup looh, mengelepar-gelepar. Aku bertanya-tanya, "bukankah rusa makan rumput?" hmm |
Buruuuuuunngg |
Luphura ignata rufa / sempidan biru sumatera |
tiga ekor sempidan biru sumatera |
gajahnya sediih :( :( |
"sendiri aja dek?" | |
dia malu-malu |
berteman |
"Tunjukkan wajahmu, kumohon.." |
haiyah! |
Tapirus indicus /tapir malaya sedih di keramaian. Ada apa? |
Pavo cristata / merak biru |
Satu hal yang paling menarik perhatian saya selama mengunjungi kebun binatang Pasar Atas adalah hewan-hewan di dalam terlihat sedih, kaya pengen nangis, minta keluar. Menurutku, tempatnya juga kurang terawat. Kandang hewan gersang (atau mungkin memang tipe seperti itu yang cocok, aku kurang tau). Semoga segera diperbaikilah. Sayang banget soalnya.
Oh iya, tiket masuk kawasan area kebun binatang adalah Rp. 10.000,-
RUMAH ADAT BAANJUANG
Oh iya, tiket masuk kawasan area kebun binatang adalah Rp. 10.000,-
RUMAH ADAT BAANJUANG
Di dalam komplek Kebun Binatang Pasar Atas terdapat (sejenis) museum juga. Didalamnya ada pakaian adat Minang, fosil hewan-hewan yang memiliki kelainan, macam kerbau kaki delapan, kamping muka dua, sapi kepala dua, kerbau kepala dua kaki enam, dll. Ada juga replika rumah adat Minang dan bagian-bagiannya, senjata tradisional, peralatan dapur zaman dulu hingga silsilah adat dan garis-garis keturunan. Ada juga uang koin kuno dari berbagai wilayah.
Meskipun berada di dalam kawasan kebun binatang, tapi masuk ke dalam rumah Baanjuang harus bayar Rp. 2.000,-. Ada dua orang Mba-mba cantik yang akan menantimu di pintu masuk.
Ini sebagian hewan-hewan (terlahir tidk normal) yang sengaja diawetkan. Masih penasaran, bagaimana cara pengawetannya. Tetapi ndak ado yang biso ditanyai :( Mba-mba cantik sibuk nonton film.
JEMBATAN LEMPAPEH
Setelah mengunjungi kebun binatang dan rumah Baanjuang, kami lanjut ke Jembatan Lempapeh. Jembatan ini menghubungkan kebun binatang dan benteng Fort de Kock. Menurut info-info di Google ukuran jembatan ini sekitar 90m x 3.8m. Ini juga yang saya sayangkan setelah mengunjungi beberapa tempat yang terkenal di Bukittinggi. Banyak info-info penting yang tidak dicantumkan.
Jembatan Lempapeh. Itu sarang kelelawar yang saya bicarakan tadi. |
Pemandangan sisi kiri dari atas Jembatan Lempapeh. Lihat jam Gadang di sebelah kiri? Di sebelah kanan yang atap oranye+merah itu adalah sejenis Klenteng dan juga untuk rumah duka. |
Pemandangan sisi kanan dari atas Jembatan Lempapeh. Bangunan paling atas berlatar belakang pegunungan itu adalah kantor walikota Bukittinggi. Sayang, kami tidak sempat ke sana. |
BENTENG FORT DE KOCK
Setelah melewati jembatan, tibalah kami di Benteng Fort de Kock. Menurutku, letaknya memang strategis untuk dijadikan benteng. Di atas dataran tinggi dan dikelilingi banyak pohon. Eh tapi, tidak tau dulu sudah banyak pohon atau belum. Kalau banyak pohon kan musuh juga bisa mendekat tanpa terlihat ya. Apalagi kan pahlawan kita zaman dahulu adalah pahlawan bergerilya (ok, jangan bilang kalian percaya 100% cerita gerilya-gerilyaan yang ada di buku sejarah itu) ---
Di setiap sudut ada meriam. Saya lupa ada berapa banyak, mungkin sekitar 10 buah meriam.
MAKAN-MAKAN
Setelah mengunjungi Benteng Fort de Kock, kami kembali ke Baso. Mau istirahat dan mandi karena nanti malam waktunya makan-makan...
Perhentian pertama adalaahh...
Teh Taluang Yang membuat teh ini spesial adalah ada telor dalam setiap gelas teh taluang. Gurih, manis dan enaak. hahaha ;D |
20 Desember 2014
Hari kedua di Bukittinggi. Kemana kita hari ini? Iya!! Tentu saja! Ayoooo....
LEMBAH HARAU
Lembah Harau terletak di Payakumbuh. Untung Toni ada motor, kalau tidak agak rempong juga. Jalannya mulus, bagus tapi angkutan umum kurang. Jadi, kalau lain kali kamu mengunjungi Lembah Harau atau Bukittinggi sebaiknya rental mobil atau motor.
Hanya ditopang sebilah kayu. Melewati rute ini sukses membuat bulu kuduk merinding. Ngeri. |
ECO TOURISM HARAU RESORT
Menurut gambar di samping, seharusnya kami akan menjumpai kupu-kupu, berbagai jenis anggrek, ikan-ikan dan mungkin bebek-bekan untuk main air.
Aku dan Toni sudah semangat 45, soalnya Toni juga kebetulan belum pernah ke bagian yang ini. Jadi, dengan langkah pasti kami mendekat dan tidak lupa senyum masih membingkai wajah. Cuaca cerah semakin membuatku bersemangat.
Akan tetapi, jauh asap dari api. Bukan kupu-kupu yang kami temui tetapi beberapa kandang besar, karatan dan kosong. Oh iya, dan juga buaya besar dalam kandang. Rerumputan lebih tinggi dari tanaman anggrek. Jalanan lumutan. Rumput liar dimana-mana. Sama sekali tidak menarik.
Puas kecewa kami maju beberapa meter lagi menuju destinasi awal yaitu, air terjun Lembah Harau
Airnya dingiinnnn. Coba ada Mpok, mau deh mandi-mandi dulu. Puas main air, kami beranjak ke tujuann berikutnya. Di tengah jalan mampir ke warung yang menjual berbagai jenis makanan berbahan dasar jagung, bakwan jagung, donat jagung sampai jus jagung tapi cover-nya anggur dkk. hahaa
KELOK SEMBILAN
Katanya, mengunjungi Bukittinggi kurang lengkap jika tidak ke kelok sembilan. Kataku, daripada penasaran, ayo kita coba. Jarak dari Lembah Harau ke Kelok Sembilan lumayan jauh. Tetapi jalannya bagus.
Bersiap untuk kelok pertama |
Menikmati puncak Kelok Sembilan. Di akhir kelokan, pinggir jalan dipenuhi penjual jagung bakar, air, dll. |
RUMAH KELAHIRAN BUNG HATTA
LOBANG JEPANG
JANJANG SARIBU
Selamat Datang Maafkan gambar goyang Kapten! |
MAKAN LAGII..
DANGAU KAWA
Saking banyaknya pelanggan, teriak berkali-kali pun, pelayannya tetap sulit mendengar kita. Jadi, setiap meja dilengkapi kentongan. Lebih ampuh! |
21 Desember 2014
Hari terakhir di Bukittinggi....
Ah, sudah hari terakhir saja. Cepat kali bah!! Udan di Tanah Minang, masih Batak kali pun! Hahaha
Masih ada waktu setengah hari. Pagi hari kami ibadah di gereja. Kemudian sarapan di nasi kapau terenak di Pasar Atas (terenak: padahal hanya mengunjungi satu kedai nasi kapau ;p)
Nasi Kapau Uni Lis. Semua kuning |
Setelah makan nasi kapau. Kuningnya benar-benar kuning. |
Baiklaaahhh!!!
Hampir semua tempat di daftar saya berhasil dikunjungi. Bukittinggi sungguh sangat mempesona. Cantik dan menyenangkan. Terima kasih untuk orang-orang yang saya jumpai, yang membantu mengambil gambar, yang menjual makanan-makanan enak dan yang membuat perjalanan ini tidak terlupakan. Terima kasih untuk kawan-kawannya Toni: Ka Vita, Ka Hana, dll.
Naparpudi, mauliate godang tu ito na burju ala olo hurepoti na piga ari on, Toni. Mauliate rrraaaa. Sai anggiat ma lancar karejomu daa!
"Jika tua nanti kita, t'lah hidup masing-masing ingatlah hari ini" -Project POP- |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar